Skip to main content

Closing Steatment

        Seperti kata yang tak bertuan, malam itu tak akan kemana-kemana terkecuali ada pada dirimu. Kamu terus saja menundukkan wajah, entah malu, segan atau takut ketika bibir tak beretika terus saja komat kamit seakan nabi yang bersabda pada malam. Pada sudut yang berbeda, perlahan wajahmu menegadah menuju garis lurus mata bulat ini, eye level point, "tidak, aku tidak bisa", ujarmu ragu. Kemudian kembali menunduk teratur, sembari mengambil nafas perlahan wajahmu kembali menegadah, "maksud saya, aku tidak bisa saat ini. Tapi mungkin dilain malam aku bisa saja". 
         
        Dan percakapan singkat ini pun usai di ujung lorong kecil menuju haribaanmu. 





Comments

TERPOPULER

Mereka Yang Lapar Dahaga

menyelami peran ke dua pada manuskrip telaga berwajah ganda, telisik mata demi waktu ke arah pandangan.. semu! adegan-adegan bumbu pedas yang tak gurih sama sekali, sarapan pagi nikmat seperti wejangan... mulai mual dengan beberapa makanan pembuka hari yang selalu berwajah sama.. air mineral seperti obat penetral toksin, menjadikan empedu berfungsi bagi akal sehat.. subjektivitas citarasa memunculkan hambar, tak tercium aroma di hidung para publik... tak akan tersentuh tangan senikmat apapun hidangan yang hanya istimewa saja... aroma hilang entah terhisap ke hidung publik yang mana... biarkan saja lapar ini berpuasa tanpa keluh tanpa wujud... selepas mimpi singkat, waktu tersisihkan bukan untuk sarapan.. secangkir kopi sudah cukup mengenyangkan.. jangan tanya kenapa, selama makan siangmu masih dengan kesendirian.. jangan terseduh, karena tak ada nikmat yang dapat di dustakan.. menyatu sebagai asam kopi atau menjadi garam dalam belanga masakan ataupun menjadi gula dalam s...