Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Trinarta

Sore Pada Kaili

Awan perlahan tidak menakutkan lagi. Sudah dari kemarin sore bias cahaya menembusnya dari sela2 pegunungan Noki. Aktivitas kaum urban kota sedikit demi sedikit kembali ramai, walau diantara mereka masih ada terbesit keraguan. Sore ini nampak berbeda, setelah tiga hari melawan sakit yg disebabkan oleh angin dan pola makan yg tdk teratur, ada sedikit asa disini, ditempat ini, dibawah pohon jambu yg rindang dan warna-warni dedaunan. Menunggumu adalah keindahan. Bagaimana tidak, seperti ujar seorang kawan "hujan ini telah lama  tak henti, aku menunggunya tidak jatuh, sebentar saja...agar orang2 yg terjebak di kiri kanan badan jalan dapat melanjutkan perjalanannya. Bukankah mengetahui kita bisa sampai ditujuan adalah hal yg menakjubkan?" Iyaaa...kau sepertinya adalah tujuan aku menunggu, dengan kedinginan sikapmu ternyata ada banyak api disana. Iyaa, kau tidak seperti yg lain, dibalik keluguan jawabanmu ada jutaan aksara dari ribuan teks buku di dalamnya. Aghhh...dan senyumm...

No Black No Game

No Black No Game Kening dahinya segera mengkerut dan seketika ujung lidahnya menjerembat keluar seusai air hitam kopi itu bersenggama dengan lidahnya dalam rongga tak bertulang. Mirip dengan live report bunuh diri yang viral di media sosial minggu ini. "uweekkkk...kenapa pahit sekali ini"??? Sebuah pertanyaan sekaligus menjadi steatment awam dari orang-orang yg selama ini memberikan gula pada kopinya. Ekspresi seperti itu sebenanya telah banyak berlalu lalang di depan mini bar. Bahkan, beberapa diantaranya sebelum mencicipi kopi , aku sudah bisa menebak ekpresinya. Di depan mini bar ini, berbagai macam ekspresi telah aku lihat, mulai dari mereka yg seringkali memberikan pujian terhadap segelas kopi yg mereka tegak habis sampai mereka yg seolah-olah suka tapi sebenarnya rasanya aneh. Tapi ekspresi kali ini, dari seorang gadis agak berbeda. Bukan pada gerak kinesik wajahnya yg menggeliat berantakan setelah cairan kopi itu menyerang lidahnya, tapi pada tafsirku mengenai ekspr...

Closing Steatment

        Seperti kata yang tak bertuan, malam itu tak akan kemana-kemana terkecuali ada pada dirimu. Kamu terus saja menundukkan wajah, entah malu, segan atau takut ketika bibir tak beretika terus saja komat kamit seakan nabi yang bersabda pada malam. Pada sudut yang berbeda, perlahan wajahmu menegadah menuju garis lurus mata bulat ini, eye level point, "tidak, aku tidak bisa", ujarmu ragu. Kemudian kembali menunduk teratur, sembari mengambil nafas perlahan wajahmu kembali menegadah, "maksud saya, aku tidak bisa saat ini. Tapi mungkin dilain malam aku bisa saja".                    Dan percakapan singkat ini pun usai di ujung lorong kecil menuju haribaanmu.