Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Menk

Pulanglah, Segera ! (2)

Pulanglah, segera! Jejak yang kau buat sudah terlalu jauh, Saat ini kemarau, jejakmu takkan bisa bertahan lama. Pedulilah dengan dirimu! janganlah terlalu larut pada egomu, yang ingin membuat jejak pada setiap puncak yang kau tapak. Pulanglah, Segera! Gelap akan tak lama lagi bertamu pada semestamu, Jingga senja akan meninggalkanmu tanpa sepatah kata permisi ataupun kata perpisahan. Jangan buat dirimu kalang kabut apabila gelap datang, cahaya bulan dan gemerlap bintang tak akan sanggup memperjelas jejak-jejak yang kau buat di kala kemarau bernaung pada semestamu. Pulanglah, Segera! Kopi hitam yang kau seduh akan segera dingin dan perlahan habis disruput penikmat asamnya arabika disekitar teras rumahmu. Nikmatilah kandungan keikhlasan yang hakiki dalam buah tanganmu sendiri, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena meninggalkan jejak- jejak yang perlahan hilang terhapus butiran hujan, cepat atau lambat pasti terjadi. Ingatlah! Pelangi tak akan mengkhianati usaha hujan y...

Pulanglah, Segera!

Ketika malam penuh keresahan, Senja sudah tak ada lagi, Pagipun mulai ingin bersahabat. Segelas ijen raung sendiri. Mulai hilang dan pergi, Berpapasan dengan sruputan penikmatnya. Hanya rasa asam yang tersisa dilidah. Sunyi, sepi,  tak ada cahaya rembulan yang kadang menghampiri dan menusuk dengan ribuan pertanyaan. Jalan pulang gelap gulita, Sampah visual sudut-sudut kota  tak terlihat oleh mata. Kebisinganpun tak ada. Kadang kala orang berkata, Sunyi itu tenang. Tapi tidak malam ini.

Pagi di Kedai Kopi

Mengawali hari sepagi ini, dengan rintik hujan yang membasahi bumi. Motor tuaku juga ikut pesta basah-basahan di halaman kedai kopi. Penuh ketenangan duduk sendiri, ditemani lagu payung teduh yang agak sayup-sayup terdengar ditelinga. Teringat seorang perempuan yang menjadi hadiah   paling spesial di hari ulang tahunku, kala itu dia menemani malamku dengan cerita dan senyum indahnya. Dengan sedikit ragu , Aku memainkan jari- jemariku untuk menanya kan kabarnya, berharap hal itu tak mengganggu aktivitasnya saat ini yang sibuk dengan Praktek Kerja Industrinya. "adik sudah bangun..?" satu kalimat yang sedikit bodoh bagiku untuk mengawali percakapan di telefon genggamku yang bisa dikatakan ketinggalan zaman, terdominasi teknologi-teknologi telefon genggam pintar yang baru dan berkembang sangat pesat. Selang beberapa menit kemudian, sambil merapikan lesehan dikedai kopi, telefon genggamku bergetar dengan jantungku yang juga berdebar-debar berharap itu pesan balasan ...

Hadiah Melati Dihariku

Tak ada deskiripsi untuk perasaan ini, Dia hadir tak terduga membuatku lupa isi dunia,   entah mengapa hanya dia yang ada di dalam jiwa, hati terpropaganda karena keberaniannya, dia mulai bicara bersama keindahannya. sungguh indah ciptaanmu tuhan.. Kuharap ini semua tak berakhir di obrolan malam ini, Ekspektasi liar mulai muncul dalam imaji, Membuahkan sebersit harapan yang semoga menjadi sebuah kenyataan, Untuk memiliki dan menjaganya juga membuat dia nyaman. Standarisasi yang kubangun di masa sekolah dulu menjelma didalam dirinya. Tentang seimannya, Tentang hijabnya, Tentang indahnya,   Dan tentang hobinya. Dia sempurna.. hadiah hariku terasa istimewa.

Mungkin Hati Yang Bicara

Dalam diam, hati yang bicara. Tak ada pergerakan dan semua terlihat berbeda, Berharap bibir berucap agar suara bisa mendominasi tawa ribuan serangga, Malam akan pergi kemudian berganti pagi, Duduk berdua tanpa ada kata, hati yang bicara. Kayu api unggun sedikit lagi akan menjadi bara , Binar mata saling tatap ragu, Sedikit malu tapi dalam hati berharap malam jangan dulu berlalu, Merah bara api pun   mulai menjadi abu, Dingin ujung malam mulai menembus tulang, Cahaya rembulan yang memantul didanau mulai menghilang tertutup awan, Rintik hujan turun tak terduga   membasahi rerumputan, Suasana gelap mulai merubah keadaan, Dan gelappun menjadi awal dan akhir dari pembicaraan, Terlontar kata dari bibir indah nan menawan sang perempuan, “Ayo Kita Pulang...”

Kenapa?

Kenapa? Ketika yang bebas mulai bertanya Orang disana mengumpulkan massa Mencari suara dan merebut kuasa Padahal disini ibu pertiwi menangis dan tak berdaya Air hujan tak sanggup menutupi air matanya Karena kini salah satu petani kini telah tiada Kenapa? Mungkin ideologi pancasila hanyalah dongeng belaka Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia menjadi hembusan harapan yang takkan jadi kenyataan teruntuk pemimpin lihatlah kami didepan istana yang menginginkan kemerdekaan yang merata ini bukan sekedar kritik jalanan bukan sekedar suara sumbang yang tak butuh jawaban Kenapa? Ah,sudahlah.. menk ft. obe

Merdeka (?)

Kaki melangkah dengan penuh rasa bangga, Kepala sengaja diangkat seakan penuh kuasa, Tunduk dan meilhat kebawah tak ada dalam kosa kata, Dalam tahu atau ketidaktahuan semua halal bagi mereka, Ideologi memihak dan membela rakyat jelata, Tertiup hembusan badai kepentingan   Semata, Wangi khas mata uang kita,   Menjadi pemicu utama hilangnya tekad membela, Kemudian sedikit demi sedikit membangun dinasti kuasa, Agar lestari nama terjaga hidup sejahtera, Apakah ini yang dikatakan merdeka? Ketika petani terancam lara karena lahan berubah menjadi bangunan perusahaan? Ketika   trotoar jalan masih dijadikan penginapan diatas selokan yang layak menjadi hunian? Ketika kail dan jala rindu sentuhan nelayan karena reklamasi pantai yang   menjadi sebuah kebingungan, Apakah membawa kemajuan atau hanya semata merusak ekosistem alam? Dimana kalian orang   pilihan ? Yang dahulu datang dengan janji-janji manis pembawa perubahan? Ah, sudahlah.. Merd...