Skip to main content

Menuju Punah Sebelum Kiamat.

Di masa depan bersamaan dengan munculnya beberapa robot pengganti manusia untuk melakukan banyak pekerjaan manusia yang begitu kompleks dan sakaratul maut,  isu apa lagi yang akan di ciptakan untuk mengundang pertikaian antar umat, kaum,  suku dan ras hadir di tengah" kedamaian yang sampai saat ini masi menjadi mitos dan persepsi tatap muka..
Menurut analisis NASA,  bumi sudah mulai menjadi tua dan kusam, bumi tempat dimana jutaan generasi muda terus di produksi atas dasar kenikmatan(horni). Mungkin bumi ini mengalami penuaan dini akibat banyaknya usaha-usaha para manusia lanjut usia untuk mengumpulkan harta kekayaan emas dan lempengan" baja berharaga yang bernilai lebih,  ada juga yang dengan sengaja menyebarkan polusi pada lingkungan sekitar hanya untuk menjadi raja dari suatu bangsa di beberapa benua.. Antartika terkena efek dari pemanasan global karena yang lain sibuk di dalam ruangan ber pendingin menghitung tabungan hasil riba dan dan semoga saja tak lupa bersedekah...

Ada yang ber opini lewat beberapa media manusia bumi akan bermigrasi ke planet lain yang serupa dengan bumi, tapi walaupun serupa tak ada sama persis karena yang pergi lalu datang kembali saja rasanya tak akan pernah sama...
Wehhhh,,, terlalu romantis manusia bumi ini sehingga lupa mencari tanda dan makna pada lingkungan sekitar yang ada di sekelilingnya..

Senja.

Comments

TERPOPULER

Menilai Etika Akun Instagram Soal Paku

Menjadi manusia seutuhnya hari ini sangat mudah, hal ini dapat dilihat pada persoalan seberapa banyak kita memposting gambar dalam media sosial atau juga seberapa syahdu kita menulis moment di dinding-dinding media sosial. Pagi ini, seperti biasa rutinitas awal adalah menyalakan layar 6 inchi dan membuka beberapa akun yang terintegrasi dalam satu alamat email. Agak nyiyir memang ketika melihat sebuah meme dari salah satu akun Buzzer di Instagram “Sayangnya Malaikat Tidak Akan Bertanya Seberapa Hits Anda Dalam Media Sosial atau Seberapa Banyak Jumlah Love dan Followers Akun Instagram Anda” Tak lama kemudian, seorang kawan mengirimi pesan singkat melalui Whatsapp “Kanda, Akun Instagram Soal Pa** Memposting Fotoku tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Bagaimana ini Kanda? Dengan sedikit memperbaiki tata letak tubuh yang masih terbujur di atas kasur, saya membalasnya dengan cukup singkat, “Tunggu Kanda, bentar di kampus kita diskusikan”. Sumber : Googgle Kampus siang itu telah ramai, di...

‘Menggunjingkan’ Tuhan Lewat Hagia

Dan seketika saja, keriuhan tanpa komando sekelompok muda penuh bara melantun bersama vokal Iga… “Sempurna yang kau puja … Dan ayat-ayat yang kau baca … Tak kurasa berbeda … Kita bebas untuk percaya” . Sepenggal lirik Barasuara yang berjudul Hagia berhasil membawa kebersamaan, bagai kelompok Penta Costa pada sekolah minggu, sekelompok muda penuh bara larut di dalamnya. Bagi mereka, musik adalah perubahan dan tanpa musik perubahan akan terasa hambar. Begitu juga dengan sang Sufi, Nietzsche yang mengatakan bahwa, “Without music, life would be a mistake.” Ya, tanpa musik hidup hanyalah kekeliruan, bahkan kering. Melalui musik kita bisa dibuat bersemangat dan berbahagia, bahkan melankolia akan masa lalu yang indah. Tidak hanya sebagai hiburan , musik juga bisa dijadikan media perlawanan terhadap ketidakadilan politik dan melalui lirik-liriknya, kita dapat melek oleh kondisi sosial-politik-budaya. Dan Barasuara, begitu seksi melakukannya melalui lirik lagu Hagia. Sumber : /ww...

Ritual ‘Pelepasan’ Diri Ala Tantra Vapor

Dia tak nampak, namun keberadaannya tak dapat terabaikan. Seperti doa para pewaris kejayaan, selalu ada api di setiap teriakan perlawanan pada rezim. Mungkin terdengar parau, sedikit sesak dan tertatih hanya saja kepalan tangan tak dapat dikendurkan. Peradaban sedikit demi sedikit bergeser, dari tangan terbuka menengadah ke langit ala para sufi hingga tangan di atas para social worker penuh modus. Dari para khilafah yang ikhlas menyebar syiar agama hingga para ulama yang sibuk di belantara media layar kaca demi rating . Begitulah cara kerja zaman, mendekonstruksi tafsir-tafsir filosofis menjadi jawaban-jawaban remeh temeh, “iya, suka aja”. Resah…? Jangan khawatir, karena dunia ini masih banyak memiliki orang-orang baik dan penuh makna dalam setiap geraknya. Mungkin mereka tak kasat mata karena kebulan asap dan wangi cream , tapi mereka ada di beberpa sudut kota sedang melakukan ritual-ritual kemanusiaan, bersenggama ala serat sentini dengan sedikit bumbu modernisasi di dalamnya...