Skip to main content

Pulanglah, Segera!

Ketika malam penuh keresahan,
Senja sudah tak ada lagi,
Pagipun mulai ingin bersahabat.

Segelas ijen raung sendiri.
Mulai hilang dan pergi,
Berpapasan dengan sruputan penikmatnya.
Hanya rasa asam yang tersisa dilidah.

Sunyi, sepi,  tak ada cahaya rembulan yang kadang menghampiri dan menusuk dengan ribuan pertanyaan.

Jalan pulang gelap gulita,
Sampah visual sudut-sudut kota  tak terlihat oleh mata.
Kebisinganpun tak ada.

Kadang kala orang berkata,
Sunyi itu tenang.

Tapi tidak malam ini.

Comments

TERPOPULER

Mereka Yang Lapar Dahaga

menyelami peran ke dua pada manuskrip telaga berwajah ganda, telisik mata demi waktu ke arah pandangan.. semu! adegan-adegan bumbu pedas yang tak gurih sama sekali, sarapan pagi nikmat seperti wejangan... mulai mual dengan beberapa makanan pembuka hari yang selalu berwajah sama.. air mineral seperti obat penetral toksin, menjadikan empedu berfungsi bagi akal sehat.. subjektivitas citarasa memunculkan hambar, tak tercium aroma di hidung para publik... tak akan tersentuh tangan senikmat apapun hidangan yang hanya istimewa saja... aroma hilang entah terhisap ke hidung publik yang mana... biarkan saja lapar ini berpuasa tanpa keluh tanpa wujud... selepas mimpi singkat, waktu tersisihkan bukan untuk sarapan.. secangkir kopi sudah cukup mengenyangkan.. jangan tanya kenapa, selama makan siangmu masih dengan kesendirian.. jangan terseduh, karena tak ada nikmat yang dapat di dustakan.. menyatu sebagai asam kopi atau menjadi garam dalam belanga masakan ataupun menjadi gula dalam s...