Skip to main content

Pramoedya dan Feodalisme Pendidikan

Tulisan ini saya buat ketika pelajaran sosiologi, dan saya menulis catatan ini bukan tanpa alasan, mungkin tulisan ini adalah fase klimaks kegelisahan saya melihat kondusifitas sistem pendidikan disekitar kita. Seringkali saya bertanya kepada diri saya “Mengapa di era post feodalisme ini masih ada, guru yang marah membabi buta di depan kelas kepada siswanya yang melakukan kesalahan padahal hanya sebatas kesalahan kecil ? (bukankah dalam membangun karakter siswa harus mengedepankan nilai construction in education, bukan malah memberikan punishment yang berlebihan ?) . “apakah mau seorang guru ditegur murid ketika ia melakukan kesalahan?” , juga masih ada guru yang menjawab “Untuk saat ini anda belum saatnya tahu hal itu” ketika ada murid yang bertanya sesuatu yang terlalu expert jenis pertanyaannya (ya, saya mengerti memang mungkin belum saatnya atau bukan porsinya tapi apakah salah seorang guru paling tidak menjelaskan gambaran umumnya saja? )
Cerita paling ironis ketika ada seorang siswa pada sebuah sekolah yang menyanggah pernyataan argumentasi seorang gurunya, alasannya karena dari hasil observasi ilmiah yang dilakukan siswa tersebut menyatakan sudah ada hasil riset terbaru , dan pendapat guru tersebut adalah hasil riset yang kuno (maka dari itu pentingnya belajar sepanjang hayat, jadi guru bukan indikasi untuk berhenti belajar), namun oknum guru tersebut tak mau menerima, merasa dirinya paling benar, malah berdebat kesana kemari (mungkin dengan alasan jaga image). Mengapa saya katakan ironis? karena kisah tersebut tak berujung sampai ketika bel pulang sekolah dibunyikan, melainkan cerita itu berlanjut sampai ke penilaian, guru itu memberikan nilai buruk kepada siswa yang menyanggah argumentasinya. Apakah ini yang dinamakan hidup di negara demokrasi?
Indonesia saat ini sudah bisa dikatakan negara yang demokrasi, makna demokrasi secara holistik adalah ketika setiap individu memiliki hak untuk bersuara. Jika kita substansikan dalam dunia pendidikan, pada masa ini seharusnya sudah tidak lagi berlaku lagi paradigma feodalisme semacam itu, dalam arti lain bahwa dalam ruangan kelas saat ini guru bukan layaknya seperti penguasa. Saat ini guru sudah saatnya menanamkan arti demokrasi di ruangan kelas, dengan konsep belajar mengajar seperti ini akan lebih interaktif, bukankah metode interaktif ini telah berhasil mendidik anak taman kanak-kanak menjadi cepat pintar bernyayi meskipun mereka rata-rata belum bisa menulis apalagi membaca secara baik? karena dengan metode ini peserta didik akan lebih leluasa dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan, inilah salah satu nilai lebih demokrasi pendidikan.
------ Pramoedya dari Anak Semua Bangsa ---------
Membahas karya Pramoedya, memang tak ada habisnya. Selalu ada topik menarik yang bisa dibicarakan tentang setiap karyanya. Saya selalu terpesona dengan cara Pramoedya melukiskan jalan cerita. Membuat saya benar-benar hanyut dalam dunia rekaannya.
Dalam kalimat yang agak panjang, Pram berpendapat tentang dunia pendidikan, “Memalukan. Bukan itu saja. Sesungguhnya aku menjadi geram karena kesadaran yang tak berdaya. Semakin lama aku semakin bingung dengan riuhnya pikiran dan pendapat begitu banyak orang. Sekolahan tetap yang paling sederhana. Orang hanya mendengarkan dan percaya tak bercadang pada beberapa orang guru. Dan angka terbaik diberkatkan pada setiap murid yang jadi sebagaimana dikehendaki guru-gurunya.” – hal 68 . Memang! Kita sering terombang-ambing oleh begitu banyak pendapat yang semuanya menyatakan “kebenaran”. Dan ketidakberdayaan melingkupi kesadaran kita. Bingung. Harus memilih “kebenaran” yang mana. Sebagai orang awam, kita sering menyandarkan “kebenaran” melalui sabda para guru. Apa yang dikatakan guru kita, itulah yang kita anut karena tidak mungkin salah. Dan guru pun semakin memuncak kewibawaannya, Saat tidak ada satu kata pun yang diingkari murid-muridnya. Padahal, “kebenaran” yang datang dari pikiran manusia, bersifat nisbi, dinamis, dan bisa berubah ketika ada “kebenaran” baru yang datang. Guru pun bisa salah. Dan itu lumrah. Bukan sesuatu yang luar biasa, ketika guru kita salah. Salah itu wajar. Yang tidak wajar ialah menyembunyikan kebenaran.
Lalu, apa tugas kita supaya tidak ada lagi sekelompok orang yang mendominasi “kebenaran”? Jawabannya saya temukan di halaman 72-73. Kita yang sudah merasa “terpelajar” wajib menularkan pengetahuan yang dimiliki. “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu,” ujar Pram. Betapa banyak anak-anak negeri ini yang masih terbelakang, menunggu kehadiran “kaum beradab” seperti mahasiswa dan santri. Yang siap mengadabkan mereka dengan bahasa yang mereka pahami. Empat kali Pram mengulang kata “harus”. Membimbing mereka dengan gaya mereka. “
Wejangan Pram semakin mengencangkan ikatan gairah saya untuk menggapai mimpi. Pram yang di sana, bukannya mati. Seperti keyakinannya dulu semasa hidup. Semua itu, “Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudianhari,” Saya berusaha mendayagunakan akal budi untuk melakukan apa yang telah Pram sarankan. Dan …
“Aku harus pergi, harus kembali jadi seorang pribadi, bukan kerdil terlindungi bayang-bayang siapapun.” Terima kasih Pram.
Bel berbunyi.

Comments

TERPOPULER

Ritual ‘Pelepasan’ Diri Ala Tantra Vapor

Dia tak nampak, namun keberadaannya tak dapat terabaikan. Seperti doa para pewaris kejayaan, selalu ada api di setiap teriakan perlawanan pada rezim. Mungkin terdengar parau, sedikit sesak dan tertatih hanya saja kepalan tangan tak dapat dikendurkan. Peradaban sedikit demi sedikit bergeser, dari tangan terbuka menengadah ke langit ala para sufi hingga tangan di atas para social worker penuh modus. Dari para khilafah yang ikhlas menyebar syiar agama hingga para ulama yang sibuk di belantara media layar kaca demi rating. Begitulah cara kerja zaman, mendekonstruksi tafsir-tafsir filosofis menjadi jawaban-jawaban remeh temeh, “iya, suka aja”.
Resah…? Jangan khawatir, karena dunia ini masih banyak memiliki orang-orang baik dan penuh makna dalam setiap geraknya. Mungkin mereka tak kasat mata karena kebulan asap dan wangi cream, tapi mereka ada di beberpa sudut kota sedang melakukan ritual-ritual kemanusiaan, bersenggama ala serat sentini dengan sedikit bumbu modernisasi di dalamnya. Dulu, s…

Laplace’s Demon: sang Iblis yang Deterministik

Tersebutlah nama sesosok iblis. Iblis itu dikenal sebagai Laplace’s Demon, satu sosok intelegensia yang dipostulatkan oleh Pierre Simon de Laplace. Laplace—seorang ahli matematika Perancis abad ke-18—menulis sebuah esai, Essai philosophique sur les probabilitéspada tahun 1814. Dalam esai itu, Laplace mempostulatkan adanya suatu sosok intelegensi yang memiliki pengetahuan tentang posisi, kecepatan, arah, dan kekuatan semua partikel di alam semesta pada satu waktu. Intelegensi ini sanggup memprediksi dengan satu formula saja seluruh masa depan maupun masa lampau. Laplace's Demon Linocut - History of Science, Imaginary Friend of Science Collection, Pierre-Simon Laplace, Mathematics Physics Daemon Space (https://www.etsy.com/listing/74889917/laplaces-demon-linocut-history-of)Laplace berpendapat, kondisi alam semesta saat ini merupakan efek dari kondisi sebelumnya, sekaligus merupakan penyebab kondisi berikutnya. Dengan begitu, jika kondisi alam semesta pada saat penciptaan dapat diketa…

Menilai Etika Akun Instagram Soal Paku

Menjadi manusia seutuhnya hari ini sangat mudah, hal ini dapat dilihat pada persoalan seberapa banyak kita memposting gambar dalam media sosial atau juga seberapa syahdu kita menulis moment di dinding-dinding media sosial. Pagi ini, seperti biasa rutinitas awal adalah menyalakan layar 6 inchi dan membuka beberapa akun yang terintegrasi dalam satu alamat email. Agak nyiyir memang ketika melihat sebuah meme dari salah satu akun Buzzer di Instagram “Sayangnya Malaikat Tidak Akan Bertanya Seberapa Hits Anda Dalam Media Sosial atau Seberapa Banyak Jumlah Love dan Followers Akun Instagram Anda” Tak lama kemudian, seorang kawan mengirimi pesan singkat melalui Whatsapp “Kanda, Akun Instagram Soal Pa** Memposting Fotoku tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Bagaimana ini Kanda? Dengan sedikit memperbaiki tata letak tubuh yang masih terbujur di atas kasur, saya membalasnya dengan cukup singkat, “Tunggu Kanda, bentar di kampus kita diskusikan”. Kampus siang itu telah ramai, di tempat biasa kami berk…