Skip to main content

Kenapa?

Kenapa?
Ketika yang bebas mulai bertanya
Orang disana mengumpulkan massa
Mencari suara dan merebut kuasa
Padahal disini ibu pertiwi menangis dan tak berdaya
Air hujan tak sanggup menutupi air matanya
Karena kini salah satu petani kini telah tiada
Kenapa?
Mungkin ideologi pancasila hanyalah dongeng belaka
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
menjadi hembusan harapan yang takkan jadi kenyataan
teruntuk pemimpin lihatlah kami didepan istana
yang menginginkan kemerdekaan yang merata
ini bukan sekedar kritik jalanan
bukan sekedar suara sumbang yang tak butuh jawaban
Kenapa?
Ah,sudahlah..

menk ft. obe

Comments

Post a Comment

TERPOPULER

Laplace’s Demon: sang Iblis yang Deterministik

Tersebutlah nama sesosok iblis. Iblis itu dikenal sebagai Laplace’s Demon , satu sosok intelegensia yang dipostulatkan oleh Pierre Simon de Laplace . Laplace—seorang ahli matematika Perancis abad ke-18 —menulis sebuah esai, Essai philosophique sur les probabilités pada tahun 1814 . Dalam esai itu, Laplace mempostulatkan adanya suatu sosok intelegensi yang memiliki pengetahuan tentang posisi, kecepatan, arah, dan kekuatan semua partikel di alam semesta pada satu waktu. Intelegensi ini sanggup memprediksi dengan satu formula saja seluruh masa depan maupun masa lampau . Laplace's Demon Linocut - History of Science, Imaginary Friend of Science Collection, Pierre-Simon Laplace, Mathematics Physics Daemon Space ( https://www.etsy.com/listing/74889917/laplaces-demon-linocut-history-of) Laplace berpendapat, kondisi alam semesta saat ini merupakan efek dari kondisi sebelumnya, sekaligus merupakan penyebab kondisi berikutnya. Dengan begitu, jika kondisi alam semesta pada saat penci...

Mungkin Hati Yang Bicara

Dalam diam, hati yang bicara. Tak ada pergerakan dan semua terlihat berbeda, Berharap bibir berucap agar suara bisa mendominasi tawa ribuan serangga, Malam akan pergi kemudian berganti pagi, Duduk berdua tanpa ada kata, hati yang bicara. Kayu api unggun sedikit lagi akan menjadi bara , Binar mata saling tatap ragu, Sedikit malu tapi dalam hati berharap malam jangan dulu berlalu, Merah bara api pun   mulai menjadi abu, Dingin ujung malam mulai menembus tulang, Cahaya rembulan yang memantul didanau mulai menghilang tertutup awan, Rintik hujan turun tak terduga   membasahi rerumputan, Suasana gelap mulai merubah keadaan, Dan gelappun menjadi awal dan akhir dari pembicaraan, Terlontar kata dari bibir indah nan menawan sang perempuan, “Ayo Kita Pulang...”