Skip to main content

Kembalilah,!

Menyusuri jalan berkelok dengan sebuah langkah cepat roda kendaraan, dengan angan itu liburan dini hari yang pasti dengan gelap dan sedikit remang.. Ada tawa yang selalu renyah di dengar kan,  dengan segelas kopi di genggaman kiri, dengan angin malam yang dengan tidak ber etika berhembus memukul wajah karena mata terlalu malas untuk tertutup rapi dan tak mau terlelap..

Ada kala semuanya hening dan beberapa orang saudara memilih rehat sejenak sebelum sampai di mana angin laut bersahut sahutan dengan ombak menuju bibir pantai karena pasir nya yang tak seputih dulu. Beberapa tembakau racikan dan di kemas modern dan beredar di pasar pasca pancaroba terus menerus ku nyalakan dari jemari kananku dan tek hentinya sesampainya disana. Melewati bangunan bangunan tua di salah kota bersejarah,  dan kadang orang orang me representasi kan sejarah sebagai daerah wisata yang sering di gandrungi remaja masa kini.
Pesisir pantai yang identik dengan tumbuhan kelapa yang terlihat tak begitu akur dengan beberapa bagian besar batu karang terlihat masih menawan seprti terakhir kali aku datang... Hembusan angin malam pesisir mengajakku terlelap karena alam semesta tahu siapa yang kelelahan dan di bawa menjauh ke dalam mimpi sampai pagi.
Serasa turut merayakan nyepi,  hening, dengan mu aku tenang, bukan pengasingan atau mengasingkan diri karena tak mampu merubah polemik negeri bekas penjajahan dan akhirnya seperti di jajah bangsa sendiri..
Matahari menunjukkan kekuatan dan kekuasaan nya berapa tepat di atas kepala, waktunya pulang,  terhenti pikir ku, dan tersadar kerinduan ku mulai memuncak lalu mulai menelaah tak butuh detik yang banyak untuk mencerna dalam akal ku...

"harus ngopi... "

Kantuk kembali menyerang di perjalan pulang, mungkin karena perasaan senang juga butuh istirahat dari rentetan canda tawa,  selepas penat kembali terngiang rangkaian peristiwa pemicu nyala api yang dahulu sempat tersisihkan kini kembali melekat hebat seperti sebuah paku yang terpatri dengan papan kayu  kursi kekuasan para kaum bangsawan yang mengganggap korupsi adalah sebuah ritual keluarga yang harus di lestarikan, itu terlihat dari simbol simbol kapitalis di kota" besar.

Waktunya berproduksi kembali bersama dengan habisnya semua nyawa yang membawaku pulang ke pangkuan ibunda pertiwi, di mulai dari melihat realitas kota ini yang penuh dengan sampah sampah karena tanah tak mampu mengurainya...

Senja


Comments

TERPOPULER

Ritual ‘Pelepasan’ Diri Ala Tantra Vapor

Dia tak nampak, namun keberadaannya tak dapat terabaikan. Seperti doa para pewaris kejayaan, selalu ada api di setiap teriakan perlawanan pada rezim. Mungkin terdengar parau, sedikit sesak dan tertatih hanya saja kepalan tangan tak dapat dikendurkan. Peradaban sedikit demi sedikit bergeser, dari tangan terbuka menengadah ke langit ala para sufi hingga tangan di atas para social worker penuh modus. Dari para khilafah yang ikhlas menyebar syiar agama hingga para ulama yang sibuk di belantara media layar kaca demi rating. Begitulah cara kerja zaman, mendekonstruksi tafsir-tafsir filosofis menjadi jawaban-jawaban remeh temeh, “iya, suka aja”.
Resah…? Jangan khawatir, karena dunia ini masih banyak memiliki orang-orang baik dan penuh makna dalam setiap geraknya. Mungkin mereka tak kasat mata karena kebulan asap dan wangi cream, tapi mereka ada di beberpa sudut kota sedang melakukan ritual-ritual kemanusiaan, bersenggama ala serat sentini dengan sedikit bumbu modernisasi di dalamnya. Dulu, s…

Laplace’s Demon: sang Iblis yang Deterministik

Tersebutlah nama sesosok iblis. Iblis itu dikenal sebagai Laplace’s Demon, satu sosok intelegensia yang dipostulatkan oleh Pierre Simon de Laplace. Laplace—seorang ahli matematika Perancis abad ke-18—menulis sebuah esai, Essai philosophique sur les probabilitéspada tahun 1814. Dalam esai itu, Laplace mempostulatkan adanya suatu sosok intelegensi yang memiliki pengetahuan tentang posisi, kecepatan, arah, dan kekuatan semua partikel di alam semesta pada satu waktu. Intelegensi ini sanggup memprediksi dengan satu formula saja seluruh masa depan maupun masa lampau. Laplace's Demon Linocut - History of Science, Imaginary Friend of Science Collection, Pierre-Simon Laplace, Mathematics Physics Daemon Space (https://www.etsy.com/listing/74889917/laplaces-demon-linocut-history-of)Laplace berpendapat, kondisi alam semesta saat ini merupakan efek dari kondisi sebelumnya, sekaligus merupakan penyebab kondisi berikutnya. Dengan begitu, jika kondisi alam semesta pada saat penciptaan dapat diketa…

Menilai Etika Akun Instagram Soal Paku

Menjadi manusia seutuhnya hari ini sangat mudah, hal ini dapat dilihat pada persoalan seberapa banyak kita memposting gambar dalam media sosial atau juga seberapa syahdu kita menulis moment di dinding-dinding media sosial. Pagi ini, seperti biasa rutinitas awal adalah menyalakan layar 6 inchi dan membuka beberapa akun yang terintegrasi dalam satu alamat email. Agak nyiyir memang ketika melihat sebuah meme dari salah satu akun Buzzer di Instagram “Sayangnya Malaikat Tidak Akan Bertanya Seberapa Hits Anda Dalam Media Sosial atau Seberapa Banyak Jumlah Love dan Followers Akun Instagram Anda” Tak lama kemudian, seorang kawan mengirimi pesan singkat melalui Whatsapp “Kanda, Akun Instagram Soal Pa** Memposting Fotoku tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Bagaimana ini Kanda? Dengan sedikit memperbaiki tata letak tubuh yang masih terbujur di atas kasur, saya membalasnya dengan cukup singkat, “Tunggu Kanda, bentar di kampus kita diskusikan”. Kampus siang itu telah ramai, di tempat biasa kami berk…